Di Balik Kampanye Tematik Kidzania
Dengan strategi kampanye tematik dan co-branding, Ari membesut komunikasi pemasaran Kidzania. Sukseskah?
Penulis/Peliput: Dwi Wulandari Foto: Ihsan Sulaiman
Hari Anak Nasional 2009 menjadi kenangan manis yang terlukis elok di lubuk hati Ari Kartika. Program Congrezz yang dibesutnya berhasil mengantarkan Kidzania meraih penghargaan “The Best Motivator Anak” dari pemimpin negara.
Penghargaan itu tentu bukan semata untuk gengsi. Melainkan, sebuah pembuktian atas kerja keras Ari dan kawan-kawan. Piala bergengsi itu makin lengkap saat jumlah pengunjung dan jumlah partner (sponsor) yang melakukan branding di Kidzania terus bertumbuh. “Rata-rata tiap bulan jumlah anak sekolah yang berkunjung mencapai 20 ribu. Sementara jumlah brand sponsor mencapai 48. Sebentar lagi, jumlah sponsor akan mencapai 55,” urai perempuan kelahiran Jakarta 31 tahun yang silam ini.
Tak ada strategi istimewa yang dirumuskan Ari dalam membangun komunikasi dengan seluruh target bidik (target audience) Kidzania—anak-anak, orang tua, guru, maupun pemilik merek. Ari memang tidak dibesarkan di industri yang bersentuhan dengan anak-anak. Namun demikian, bukan berarti ibu dari Chezan Abhindra Monaco (2,8 bulan) ini tidak memiliki kepekaan dalam berkomunikasi dengan anak-anak.
“Sebelumnya, pengalaman saya di produk otomotif super mewah, BWM Euro Cars, sebagai marketing communication,” ungkap Ari yang melanjutkan kuliah S2 di Universitas Indonesia jurusan Manajemen Komunikasi ini.
Ari mengaku kelahiran sang buah hati membuat dia begitu concern pada dunia pendidikan anak. Maka, ketika kesempatan hadir, ia langsung memutuskan bergabung dengan Kidzania. Sebagai Ministry of Marketing Communication Kidzania, Ari mempraktikkan segala ilmu S1 dan S2 komunikasi plus pengalamannya selama di BMW.
Pada tahun pertamanya di Kidzania (2008), Ari bersama tim berusaha membangun awareness Kidzania dengan berbagai strategi. “Awareness yang ingin dibangun ini bukan sekadar Kidzania sebagai wahana bermain, tetapi juga Kidzania sebagai medium untuk mendidik anak menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan menghargai profesi,” kisah perempuan yang mendapat gelar S1 dari London School of Public Relations ini.
Memasuki tahun kedua, sepanjang 2009, komunikasi dibangun dengan jalur public relations (PR) sekaligus co-branding dengan para sponsor (pemilik merek)—yang notabene sanggup meringankan bujet komunikasi. Setiap bulannya, Kidzania menawarkan kampanye serta event dengan tema yang berbeda-beda, alias tematik, misalnya bertema valentine, kemerdekaan, pemilu, imlek, dan sebagainya.
Kampanye tematik itu rupanya berhasil. Buktinya, program Congrezz—yang melatih anak-anak menjadi anggota dewan sekaligus bekerja selama setahun sebagai anggota dewan di Kidzania City—sanggup menciptakan WOM di kalangan anak-anak, orang tua, pendidik, maupun media. “Tahun ketiga, 2010, kami akan mengelola komunitas atau customer loyalty program dengan melibatkan juga para pemilik merek,” tutup Ari.
Related posts:
