Menyiapkan Re-opening Hotel yang pernah Berhenti

Category: Bisnis, Marketing, Wirausaha

Ada dua tipe karyawan: mereka yang setia pada perusahaan dan mereka yang setia pada profesi. Mereka yang setia pada perusahaan, mengabdi dalam jangka waktu panjang di satu perusahaan, sementara kaum loyalis pada profesi, mengejar achievement profesional yang menerabas batas perusahaan. Dan Hanny Wahyuni Gunawan, Director of Public Relations Hotel Indonesia Kempinski, adalah salah satu figure yang menganut paham loyal pada profesi. Sepanjang karirnya selama 14 tahun, Hanny telah bekerja pada 9 perusahaan pada industri yang berbeda—hotel, media, advertising, pay TV. Namun demikian, dia setia di jalur profesi yang berkaitan dengan dunia komunikasi.

Penulis dan Peliput: Iski Foto: Ihsan 

Wajar saja jika kemudian muncul kesan Hanny seorang kutu loncat, sebab wanita yang lulus Cum Laude Universitas Sahid Jurusan Komunikasi ini, tidak pernah lebih dari 30 bulan bertahan dari satu perusahaan. “Kalau memang selalu mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan karier, mengapa tidak?” kata Hanny. Dan Hanny menepis anggapan miring tentang kutu loncat itu dengan prestasi dan lompatan karier, sampai kemudian menduduki posisi strategis di sebuah hotel yang cukup legendaris di Indonesia, Hotel Indonesia Kempinski.

“Saya ‘hanya’ memanfaatkan opportunity yang ada,” tegas Hanny. Saat bergabung dengan Hotel Indonesia (HI) Kempinski pada April 2008, Hanny menghadapi tantangan yang tidak ringan, karena HI yang telah berhenti beroperasi sejak 2004 ini seolah terbengkalai, sementara hotel-hotel lain semakin menancapkan kukunya di kawasan Bundaran HI. “Saya bertugas men-setup PR Department untuk re-opening pada Februari 2009—hal ini juga berarti HI harusa menetapkan standar sendiri, karena tidak ada guidance sebelumnya,” jelasnya.

Menurut Hanny, meski HI legendaris, tidak lantas komunikasi lalu diandalkan pada status warisan masa lalu itu, sehingga orang bisa memiliki persepsi masing-masing—bisa jadi bukan persepsi yang tepat. “Persepsi publik sangat penting, dan persepsi itu timbul dari cara kami berbicara pada mereka,” kata Hanny. Oleh karena itu, komunikasi terus dilakukan dalam beberapa press conference secara berkelanjutan, termasuk sesudah HI Kempinski resmi dibuka kembali. Selain itu, kegiatan PR-ing tetap gencar dilakukan, termasuk penyelenggaraan Kempinski Vienna Ball akhir Oktober lalu.

Yang menarik, Hanny sudah memasuki beragam industri, namun dengan akar yang sama yaitu komunikasi. Hanny pernah berkarier di Astro TV, agensi periklanan Pantarei, Tabloid Wanita Indonesia, dan produsen aneka tools Kawan Lama Sejahtera di awal kariernya. “Semua berguna sehingga ketika dalam menyelesaikan masalah, saya tidak hanya melihat dari satu sisi saja,” kata Hanny. Dia mengaku matang di lapangan, dan beragam tantangan dalam pekerjaannya yang terdahulu, membuatnya seolah menjelma bola dengan sudut sempurna. “Saya terbiasa multitasking, dan melihat sebuah isu secara terintegrasi,” tegas Hanny.

Leave a Reply